Ini hari ulang tahunku..
Mungkin kamu tidak ingat.. Aku tau..
Bahkan namaku pun tidak pernah benar kamu tuliskan dalam catatan maupun nama kontak di ponselmu..
Selalu salah.. Iya Aku tau..
Kamu juga selalu mengajakku bertengkar dan beradu pendapat,
atau sekedar beradu kata karena usil..
Iya aku tau..
Pun kamu yang sukanya mengejekku & menggangguku..
Itu pun aku tau..
Karena..
Juga kamu yang selalu ada ketika yang lainnya pergi..
Juga kamu yang selalu mau mendengarkan ketika yang lainnya tutup telinga..
Juga kamu yang mau menemani ketika aku merasa sendiri..
Pun kamu yang sangat peduli ketika yang lainnya sedang sibuk dengan diri sendiri...
Kamu juga yang memberiku semangat ketika yang lainnya bahkan tidak pernah peduli..
Yang memberi perhatian dan tawa di saat aku fikir tidak ada yang bisa begitu ketika itu...
Iyaa.. aku tau..
Sampai kemudian..
Kamu memelukku..
Seerat itu.. selembut itu..
Setak menyangka itu...
Mengusap lembut punggungku..
Iyaa aku tau... Ini hari ulang tahunku...
Untuk pertama kalinya..
kamu memelukku..
Juga terakhir kalinya kamu tersenyum dihadapanku...
Kemudian pergi...
Iya..
Kado mu sudah sampai..
sudah aku terima.. :")
Sahabatku yang HILANG.. ..
Semarang, 25 Desember 2013
Virqi W. Bianti
Menu Bar
Kamis, 26 Desember 2013
Senin, 16 Desember 2013
Di Langit-langit Kamarku ..

Tepatnya beberapa menit yang lalu..
Lampu kamar sudah aku padamkan. Selimut sudah menyelimuti sekujur tubuhku. Dingin memang. Hujan tadi sore menyisakan suasana sedingin ini..
Kemudian beberapa saat sebelum aku terpejam.. Mataku mengarah ke atas, ke langit-langit kamarku..
Nampak seekor Cicak sedang terdiam dengan seekor Kupu-kupu berada dicengkeraman mulutnya..
Diam & berusaha membuat kupu-kupu tersebut mati agar kemudian bisa Ia lahap.. bisa Ia nikmati sebagai menu makan ditengah malam ini..
Tetapi tidak semudah seperti yang Ia bayangkan..
karena ternyata tubuh kecil Kupu-kupu itu sangat kuat, sangat agresif untuk menyelamatkan dirinya deri cengkeraman cicak..
Berkali-kali bergerak hingga akhirnya terlepas & terbang lagi...
Lepas sudah menu makan untuk malam ini...
Cicak pun terdiam beberapa saat. Diam & tak bergerak dari tempat semula..
Mungkin Ia sedang meratapi kegagalannya..
Meratapi bahwa yang kecil tidak selalu lemah..
Yang lemah belum tentu mudah kalah...
Hingga kemudian cicak pun berlari lagi..
Dan mencari menu makan lainnya lagi..
Ia percaya.. gagal sekali bukan berarti harus berhenti..
karena berhenti berarti Ia akan mati sebab perut tak Terisi...
Semoga
kita dapat pelajaran brharga..
Dari Cicak dan Kupu-kupu yang Tidak Sengaja nampak di atas sana .. iya. Di Langit-langit kamarku..
Virqi
Semarang, 14 Des'13
Semalam, Di Tempat yang Asing ..
Pagi..
matahari
baru saja sejenak pergi dari peraduan. Menuju tempat dimana manusia
menginginkan kehadirannya. Juga tepat pada waktunya, meski terkadang mendung
menghambatnya untuk datang. Matahari selalu tepat waktu. Menjanjikan cahayanya
seperti janji kepada Tuhannya..
Tapi..
Pagi
ini berbeda. Aku merasa asing karena terbangun di tempat dan kondisi yang tidak
aku kenal. Yang tidak pernah aku kunjungi atau bahkan aku temukan sebelum ini.
Aku merasa asing, tetapi tubuhku berjalan seolah sangat faham setiap lekukan
dan keadaan tempat ini. Hanya saja, aku merasa tidak sama sekali tau.
Benar-benar asing..
Kemudian
di tempat asing lainnya, entah itu siang, entah itu malam, fikiranku merasa
semakin tidak tau, aku dimana? Tempat apa ini?.. tetapi tubuhku terus berjalan
dan bertegur sapa pada orang-orang yang keliatannya tidak jelas difikiranku.
Mereka itu siapa?
Aku
tidak sedang gila..
Kenyataannya
tubuhku berjalan dan bertingkah laku sangat normal seperti biasanya. Tertawa
dan bercanda gurau juga lumrah seperti keadaan-keadaan sebelum ini..
Yang
aneh adalah fikiranku.. karena bekerja sangat tidak sinkron dengan tubuh,
dengan perilaku.. Aaahhh aku bingung... Aku sedang dimana???
Sampai
pada akhirnya.. aku menemukan satu wajah yang jelas dan nyata difikiranku. Iya.
Itu kamu....
Aku
tau betul itu wajahmu. Itu senyummu. Itu sapamu..
Seseorang
yang beberapa saat ini menjadi bagian yang sangat dominan difikiran dan dihatiku,
yang menjadikan aku seperti pecundang karena mendamba yang tidak bisa dimiliki..
Tidak.. ini salahku. Karena menjadikan posisimu jauh lebih sulit dari
sebelumnya..
Meskipun
pada kenyataannya, aku dan kamu sama-sama “tidak punya yang memiliki” selain
ayah dan ibu tentunya..
Entahh..
ini rumit.. Aku hanya bisa melihatmu tersenyum. Lalu menyapaku. Atau sekedar
melihat kegiatanmu dari kejauhan.. Iya.. memang ingin rasanya.. berbagi canda,
bergurau, atau berbicara lebih banyak denganmu.. Tapi kenyataannya.. ..
Di
buku ini tidak tertuliskan tentang ceritamu dan ceritaku,, tidak dijelaskan
bahwa kita dipertemukan untuk kemudian menciptakan cerita seperti romeo dan
juliet atau kisah asmara seperti di negeri dongeng. Tidak ada..
Jadi..
hanya sebatas itu.. memandangimu dari kejauhan.. dan tersenyum lagi. Meski
nyatanya aku tersenyum sendirian tidak dengan kamu..
Lalu
aku pergi membawa senyuman sepi ku, dan membuka mata (lagi)..
Nampak
dinding kamar yang putih, juga bertabur dengan wall sticker bunga berwarna merah
muda. Dengan gantungan dan tumpukan2 jilbab di dinding bagian lainnya. Aaaahh
ini kamarku... Sekarang fikiranku sudah jelas...
Aku
sudah kembali setelah berjalan jauh di media alam bawah sadar yang aku sebut “MIMPI”...
Dan
pun baru aku sadari.. Bahkan di alam MIMPI saja.. Kita tidak ditakdirkan untuk
bersama.. Lalu.. Bagaimana dengan kenyataannya???
Aaaahh..
sepertinya aku harus mandi.. Dan menyegarkan kembali fikiranku yang hampir
begitu berantakan tadi malam.. “di tempat yang asing” ....
Virqi,
Semarang
11 12 13 ....
Senin, 25 November 2013
Jumat, 22 November 2013
Buah Mangga yang Aku Kupas Malam ini...

Kemudian perlahan-lahan aku fillet daging mangga tersebut dibagian punggung atas, dan lagi dari pangkal ke ujung. Kata orang jaman dulu, pamalik kalau mengupas kulit dan daging mangga dari ujung ke pangkal. Kalau menurut saya, bukan karena pamaliknya, tapi karena kenyataannya mengupas dari ujung ke pangkal itu malah lebih sulit. Iya, itu secara logika, bukan mitos..
Lalu belahan itu aku potong menjadi dua, meskipun masih saja terlihat besar untuk masuk ke mulutku yang notabene berukuran kecil. Dan akhirnya perlahan-lahan aku lahap dari ujung yang besar, kuning, berair, dan manis, sampai digigitan terakhir. Nikmat sekali. Ciptaan Tuhan mana lagi yang tidak bisa di suguhkan kalimat "SUBHANALLAH".. Nikmat sekali ciptaanMu ini.. Terima kasih.. karena menjadikan yang segar seNikmat ini. Menjadikan yang tumbuh seManis ini.. Terima kasih.. :)
Lagi,
Aku fillet bagian sisi lainnya, kemudian melahapnya pelan-pelan, sedikit demi sedikit.
Kali ini lain. Justru lain lagi yang aku fikirkan. Karena didalam fikiranku malah tiba-tiba ada kamu. Tiba-tiba mengingatmu. Sederhana sekali. Karena acapkali membeli mangga, biasanya selalu ada kamu. Selalu memakannya berdua denganmu. Kamu yang mengupas, lalu aku hanya menunggu dan meminta bagian belahannya, separuh-separuh denganmu. Rasanya menyenangkan. Karena acapkali melahap mangga bersamamu, aku selalu merasa kurang, selalu merasa ingin mendapat bagian yang lebih besar. Selalu ingin lagi dan lagi.
Karena acapkali ada kamu. Makananku pasti akan habis. Jadi aku takut tidak kebagian. Kemudian menjadi "rebutan".. Aahh itu jauh lebih menyenangkan. Tidak seperti malam ini, aku mengupas sendirian, membelah bagian demi bagian sendirian, dan melahapnya pun sendirian. Itu pun belum habis aku sudah merasa "kekenyangan"...
Begitu..
Memang dengan begitulah aku jadi suka. Menyenangkan. Berbagi tawa, canda, bahagia, sedih, duka, juga "berebut" makanan yang paling aku dan kamu suka. Atau hanya sekedar menghabiskan makananku ketika aku tak sanggup lagi menghabiskan apa yang seharusnya habis. Iya, itulah kenapa semakin hari kamu semakin besar dan aku tetap saja mungil dan kecil. Tapi aku suka.. meski sering kamu marahi karena aku jarang menghabiskan makananku. Aku tau. sampai sekarang kamu masih tidak suka aku begitu.. Tapi aku juga tau.. kamu lebih memilih membiarkannya, daripada aku paksakan malah akhirnya keluar semua karena lambungku tidak menerima. Aku tau.. karenanya aku suka.. menjadikanmu seseorang yang akan selalu tau tentangku.. Mengerti aku....
Karena katamu.. Kamu lebih mengerti aku daripada diriku sendiri..
dan Juga kataku.. Aku lebih mengerti kamu daripada dirimu sendiri..
Jadi kita saling membutuhkan disini..
Hingga lupa tentang fikiran untuk terlalu mendambakan yang lain, yang kita inginkan..
Aku tau..
Bukan aku yang paling baik.. bukan juga kamu yang terbaik...
Kita ada disini untuk saling membutuhkan.. untuk saling mengerti..
dan aku tersenyum lagi...
kali ini senyumanku lebih dalam.. karena sepertinya mataku sudah mulai berlinang...
Aaahh aku rindu.. meskipun baru beberapa jam lalu aku melahap nasi dan lauk waktu makan malam di depanmu...
Hingga aku lupa bahwa mangga yang aku potong belum habis. Dan lagi aku lahap perlahan-lahan sampai benar-benar habis, benar-benar bersih. Karena memang harus habis, meski tidak ada kamu. Mangga ini harus habis..
Sampai kemudian, nada ponselku berbunyi. iya.. tentunya pesan singkat darimu. Walaupun hanya sekedar kata "PING!!!!".
Iya sayang..
sama...
Aku juga sedang memikirkanmu... :')
Aku juga rindu.......
Virqi,
Semarang, 22 Nov'13
Selasa, 19 November 2013
(Dulu), di bangku kelasku ..
Jalanan ini indah.. ada beberapa kesejukan diantara gersang berdebu dengan hijaunya dedaunan, dan beberapa kicauan burung gereja bergurauan menghinggapi padi pak tani..
Indah..meski tak seindah jalanan sejuk di perbukitan menuju Dieng Plateu Jawa Timur..
Meski tak sesejuk jalanan diantara embun paginya wisata Ketep di Jogja..
Meski mendung dan hujan tak memberi kabut tebal seperti di wisata Umbul Sidomukti Semarang..
Meski tidak seperti itu.. Jalanan ini akan tetap indah bagiku.. Jalanan yang dulu pernah kita lewati bersama, berjalan kaki di fajar sambil menanti mentari pagi.. atau hanya sekedar mencari ketenangan hati.. Di jalanan sekitaran tempat tinggal kosku dan kosmu yang jaraknya hanya memang satu rumah tepat di belakang kosku. Jalanan menuju gedung sekolah tercinta yang sekarang hanya menjadi tempat yang paling aku rindu.. Jalanan yang menjadikan kamu dan aku tertawa sepanjang jengkal langkah kaki, sepanjang sapa dari hati ke hati.. Atau saat kamu selalu suka mengusap dan mengacak-acak rambutku sambil mengatakan "aku cinta kamu".. Iya, saat itu hijabku masih sering aku lepas. Jadi kamu masih bisa mengacak-acak rambutku (dulu).. hahaa.. Kemudian aku tertawa sendiri mengenang itu.. Bedanya sekarang aku tertawa sendiri tanpa kamu..
Lalu aku duduk disini, di ruang kelas yang dulu menjadi favoriteku untuk bercanda dan bergurau bersama teman-temanku. Juga tempat dimana aku dan kamu bisa mencuri waktu ditengah pelajaran untuk saling menatap mata antar mata, kemudian tersenyum malu. Juga menjadi tempat yang paling banyak waktunya untuk bisa melihat senyuman dan tawamu. Meskipun tidak selalu bersama, meskipun tidak selalu duduk berdua, karena memang kursi di kelasku hanya untuk satu satu. Meskipun tidak selalu berdekatan. Iya. begitulah cara kita.. Menempatkan posisi bahwa di sekolah adalah tempat untuk belajar, tempat untuk menggali ilmu. Lalu aku tersenyum lagi.. mengingat kelalaianku yang selalu datang terlambat dan mendapati tempat duduk bagian depan tepat didepan meja guru, juga tepat didepan bangkumu. Bagi sebagian yang lain, berdekatan dengan pasangan itu menyenangkan, tapi ini bedanya kami. Aaaahh suasana sedekat itu menjadi tidak nyaman bagiku dan bagimu. Karena pasti akan selalu menjadi favorite guru untuk menciptakan keisengannya mengusili aku dan kamu... Iya. seperti itu dulu kamu..juga aku.. :)
Kepalaku menengok ke bagian belakang. Di kursi paling belakang. Sekarang aku ingat sesuatu yang lain. Saat aku duduk sendiri sambil menekukkan kepalaku, kemudian kamu datang dan duduk tepat didepanku. Semanis itu, menanyakan alasan kemurunganku. Menenangkan aku. Atau hanya cukup menghiburku dengan tawamu. Itu menyenangkan. Aku rindu.. karena pun aku tau, otakku tidak lebih pintar dari kamu. Jadi Matematika akan tetap menjadi favoritemu dan Bahasa Indonesia akan tetap menjadi favoriteku. Kita se-BEDA itu tapi se-menyenangkan itu. (dulu)..
.jpg)
Aku ingat di antara dinding paling belakang di kelas, kamu duduk di lantai, kemudian bermain gitar didepanku sambil menyanyikan lagu Sheila On 7 yang berjudul Terimakasih Bijaksana. Kamu tau? hari itu pertama kali aku rela jatuh pada cinta terhadap petikan jemarimu di dawai gitar, aku jatuh pada cinta di tiap lirik dan nada yang kamu nyanyikan dengan indah, aku jatuh pada cinta tepat pada hati yang sengaja kamu siapkan untukku saat itu. Dan hingga detik ini.. Lagu itu masih tetap menjadi favorite nomor satu di daftar lagu-lagu ku.. Juga kisah paling favorite diingatanku.. meski itu sekarang (masih)..
Itu semua DULU..
karena sekarang kamu dan aku punya bagiannya masing-masing, punya ceritanya masing-masing. karena sekarang di tempat ini, di kelas ini. Aku sengaja mengingat semua yang pernah ada. Mengingat semua keindahan yang pernah KITA cipta. Sengaja membiarkan otakku mengenang semua perjalanan suka dan duka. cinta dan bahagia. lalu tawa dan canda. Juga kelucuan-kelucuan kita. Sampai semuanya benar-benar aku ingat untuk kemudian aku tinggalkan. Juga disini. Di ruang kelas ini. Tempat dimana Kita mulai. Tempat dimana juga harus aku tinggalkan.
Hingga nanti saat kita bertemu lagi..
Kita akan tetap bisa tertawa lagi,
bisa bercanda lagi,
bisa berbagi kelucuan-kelucuan lagi.
bisa bahagia lagii...
Bedanya..
Kita tidak lagi melibatkan HATI di dalam tiap-tiap laku nya.. :)
Virqi
Semarang, 19 Nov'13
Indah..meski tak seindah jalanan sejuk di perbukitan menuju Dieng Plateu Jawa Timur..
Meski tak sesejuk jalanan diantara embun paginya wisata Ketep di Jogja..
Meski mendung dan hujan tak memberi kabut tebal seperti di wisata Umbul Sidomukti Semarang..
Meski tidak seperti itu.. Jalanan ini akan tetap indah bagiku.. Jalanan yang dulu pernah kita lewati bersama, berjalan kaki di fajar sambil menanti mentari pagi.. atau hanya sekedar mencari ketenangan hati.. Di jalanan sekitaran tempat tinggal kosku dan kosmu yang jaraknya hanya memang satu rumah tepat di belakang kosku. Jalanan menuju gedung sekolah tercinta yang sekarang hanya menjadi tempat yang paling aku rindu.. Jalanan yang menjadikan kamu dan aku tertawa sepanjang jengkal langkah kaki, sepanjang sapa dari hati ke hati.. Atau saat kamu selalu suka mengusap dan mengacak-acak rambutku sambil mengatakan "aku cinta kamu".. Iya, saat itu hijabku masih sering aku lepas. Jadi kamu masih bisa mengacak-acak rambutku (dulu).. hahaa.. Kemudian aku tertawa sendiri mengenang itu.. Bedanya sekarang aku tertawa sendiri tanpa kamu..
Lalu aku duduk disini, di ruang kelas yang dulu menjadi favoriteku untuk bercanda dan bergurau bersama teman-temanku. Juga tempat dimana aku dan kamu bisa mencuri waktu ditengah pelajaran untuk saling menatap mata antar mata, kemudian tersenyum malu. Juga menjadi tempat yang paling banyak waktunya untuk bisa melihat senyuman dan tawamu. Meskipun tidak selalu bersama, meskipun tidak selalu duduk berdua, karena memang kursi di kelasku hanya untuk satu satu. Meskipun tidak selalu berdekatan. Iya. begitulah cara kita.. Menempatkan posisi bahwa di sekolah adalah tempat untuk belajar, tempat untuk menggali ilmu. Lalu aku tersenyum lagi.. mengingat kelalaianku yang selalu datang terlambat dan mendapati tempat duduk bagian depan tepat didepan meja guru, juga tepat didepan bangkumu. Bagi sebagian yang lain, berdekatan dengan pasangan itu menyenangkan, tapi ini bedanya kami. Aaaahh suasana sedekat itu menjadi tidak nyaman bagiku dan bagimu. Karena pasti akan selalu menjadi favorite guru untuk menciptakan keisengannya mengusili aku dan kamu... Iya. seperti itu dulu kamu..juga aku.. :)
Kepalaku menengok ke bagian belakang. Di kursi paling belakang. Sekarang aku ingat sesuatu yang lain. Saat aku duduk sendiri sambil menekukkan kepalaku, kemudian kamu datang dan duduk tepat didepanku. Semanis itu, menanyakan alasan kemurunganku. Menenangkan aku. Atau hanya cukup menghiburku dengan tawamu. Itu menyenangkan. Aku rindu.. karena pun aku tau, otakku tidak lebih pintar dari kamu. Jadi Matematika akan tetap menjadi favoritemu dan Bahasa Indonesia akan tetap menjadi favoriteku. Kita se-BEDA itu tapi se-menyenangkan itu. (dulu)..
.jpg)
Aku ingat di antara dinding paling belakang di kelas, kamu duduk di lantai, kemudian bermain gitar didepanku sambil menyanyikan lagu Sheila On 7 yang berjudul Terimakasih Bijaksana. Kamu tau? hari itu pertama kali aku rela jatuh pada cinta terhadap petikan jemarimu di dawai gitar, aku jatuh pada cinta di tiap lirik dan nada yang kamu nyanyikan dengan indah, aku jatuh pada cinta tepat pada hati yang sengaja kamu siapkan untukku saat itu. Dan hingga detik ini.. Lagu itu masih tetap menjadi favorite nomor satu di daftar lagu-lagu ku.. Juga kisah paling favorite diingatanku.. meski itu sekarang (masih)..
Itu semua DULU..
karena sekarang kamu dan aku punya bagiannya masing-masing, punya ceritanya masing-masing. karena sekarang di tempat ini, di kelas ini. Aku sengaja mengingat semua yang pernah ada. Mengingat semua keindahan yang pernah KITA cipta. Sengaja membiarkan otakku mengenang semua perjalanan suka dan duka. cinta dan bahagia. lalu tawa dan canda. Juga kelucuan-kelucuan kita. Sampai semuanya benar-benar aku ingat untuk kemudian aku tinggalkan. Juga disini. Di ruang kelas ini. Tempat dimana Kita mulai. Tempat dimana juga harus aku tinggalkan.
Hingga nanti saat kita bertemu lagi..
Kita akan tetap bisa tertawa lagi,
bisa bercanda lagi,
bisa berbagi kelucuan-kelucuan lagi.
bisa bahagia lagii...
Bedanya..
Kita tidak lagi melibatkan HATI di dalam tiap-tiap laku nya.. :)
Virqi
Semarang, 19 Nov'13
Senin, 18 November 2013
Tidak sedang Kehilangan(mu)..
Jika hujan hari ini masih sama dengan hujan kemarin. atau hujan hari ini juga sama dengan hujan(mu) di tempat yang lain?? Mungkin definisi hujan secara logika akan tetap sama. Bedanya jika hati yang mengubah kalimat dan kata-katanya sehingga definisi hujan menjadi lebih luas maknanya..
Tapi.. hujanku sama kan dengan hujan(mu)..?
Aku hanya ingin tau. Mungkin tidak sama. Beberapa tempat terkadang memiliki waktu untuk diturunkannya hujan dengan jeda yang tidak sama. Aku tau. Tidak akan selalu sama. Mungkin.
Seperti halnya Tuhan menciptakan Aku juga menciptakan kehadiran(mu) di kehidupanku. Mungkin tidak untuk selalu bersama. Mungkin, untuk keperluan yang lebih mendesak nantinya. Iya. Seperti kehilangan(mu) misalnya. Itu salah satu keperluan yang Tuhan ciptakan untukku. Untuk mengerti sendiri apa sesungguhnya makna kehilangan setelah benar-benar merasakan, setelah benar-benar tau.. Kemudian mengerti.
Sehingga hari ini hujanku hanya akan tetap menjadi hujanku setelah keperluan ku tentangmu sudah tidak lagi ada. Lebih tepatnya setelah kehilangan(mu) dalam jangka waktu yang tidak ingin aku ingat.
Aku tidak ingat..
Yang aku ingat hanyalah tentang semua hal tidak akan selalu sama, tidak.
Seperti ketika aku mencintaimu, tetapi kenyataannya kamu tidak.
Seperti aku terlalu mengharapkan keberadaanmu, tetapi kamu tidak,
Seperti aku yang selalu membutuhkanmu, tetapi kamu selalu tidak...
Jadi sekarang pun aku berusaha merubah hal yang tadinya "IYA" menjadi "TIDAK"
yang tadinya "ADA" menjadi "TIDAK ADA"..sehingga yang tadinya "SELALU" menjadi "TIDAK PERLU".. Begitu seharusnya aku..
Mengubah kembali kata "kehilanganmu" menjadi "tidak pernah lagi ada kamu"..
Karena mungkin dengan begitu.. Aku juga tidak perlu menuliskan cerita tentangmu lebih banyak lagi di bagian Judul yang ini..
SELESAI .
Belum..
masih ada lagi...
Judul cerita ini sedikit salah aku tuliskan..
Karena "kata yang pertama" seharusnya tidak ada.. :')
Virqi
Semarang, 18 Nov'13
Tapi.. hujanku sama kan dengan hujan(mu)..?
Aku hanya ingin tau. Mungkin tidak sama. Beberapa tempat terkadang memiliki waktu untuk diturunkannya hujan dengan jeda yang tidak sama. Aku tau. Tidak akan selalu sama. Mungkin.
Seperti halnya Tuhan menciptakan Aku juga menciptakan kehadiran(mu) di kehidupanku. Mungkin tidak untuk selalu bersama. Mungkin, untuk keperluan yang lebih mendesak nantinya. Iya. Seperti kehilangan(mu) misalnya. Itu salah satu keperluan yang Tuhan ciptakan untukku. Untuk mengerti sendiri apa sesungguhnya makna kehilangan setelah benar-benar merasakan, setelah benar-benar tau.. Kemudian mengerti.
Sehingga hari ini hujanku hanya akan tetap menjadi hujanku setelah keperluan ku tentangmu sudah tidak lagi ada. Lebih tepatnya setelah kehilangan(mu) dalam jangka waktu yang tidak ingin aku ingat.
Aku tidak ingat..
Yang aku ingat hanyalah tentang semua hal tidak akan selalu sama, tidak.
Seperti ketika aku mencintaimu, tetapi kenyataannya kamu tidak.
Seperti aku terlalu mengharapkan keberadaanmu, tetapi kamu tidak,
Seperti aku yang selalu membutuhkanmu, tetapi kamu selalu tidak...
Jadi sekarang pun aku berusaha merubah hal yang tadinya "IYA" menjadi "TIDAK"
yang tadinya "ADA" menjadi "TIDAK ADA"..sehingga yang tadinya "SELALU" menjadi "TIDAK PERLU".. Begitu seharusnya aku..
Mengubah kembali kata "kehilanganmu" menjadi "tidak pernah lagi ada kamu"..
Karena mungkin dengan begitu.. Aku juga tidak perlu menuliskan cerita tentangmu lebih banyak lagi di bagian Judul yang ini..
SELESAI .
Belum..
masih ada lagi...
Judul cerita ini sedikit salah aku tuliskan..
Karena "kata yang pertama" seharusnya tidak ada.. :')
Virqi
Semarang, 18 Nov'13
Jumat, 15 November 2013
Karena PERNAH, Lalu....
Aku pernah disakiti, pernah merasa sangat sakit tapi tidak secara fisik melainkan hati. Aku pernah.
Jadi ini bukan hal baru bagiku jika masih ada lagi yang akan mencoba memberi sakit yang lebih banyak lagi ke dalamnya. Karena seberapa hebat pun disakiti berkali-kali, dijatuhkan berkali-kali. Nyatanya hatiku masih sekuat ini, masih seutuh ini, dan masih bisa bangkit pun berkali-kali. Hingga luka dan hinaan hanya akan menjadi bagian yang memang seharusnya ada. Menjadi hal yang sudah sewajarnya ada.
Aku tidak mengeluh, bagaimana bisa aku mengeluh sedangkan hatiku bisa setegar itu berdiri. Dan bisa bangkit lagi meski berjuta-juta kali disayat oleh sembilu. Dari perlakuan yang tak mengenakkan. Dari rasa perihnya ditinggalkan. Dari rasa kecewanya dikhianati. Dari ucapan-ucapan hina yang menghujani. Dari caci maki yang terngiang-ngiang sampai berhari-hari. Apalagi hanya sekedar disakiti karena ingin dibalas dendamkan sejak pernah tanpa sengaja aku sakiti. Aku biasa dengan itu. Aku tidak apa-apa. Bagaimana bisa aku mengeluh? sedangkan hatiku setegar itu :)
Untuk setiap kata. untuk setiap kalimat. untuk setiap laku. untuk setiap perlakuan. untuk tiap-tiap kejadian. Aku pernah jatuh. dan Juga pernah menjatuhkan. Aku pernah disakiti. Aku juga pernah menyakiti. Aku pernah ditinggalkan. Aku juga pernah meninggalkan. Aku pernah di caci maki. Mungkin juga tanpa kusadari aku pernah mencaci maki...
Aku pernah..
Karena pernah lalu aku tidak menghakimi. Justru aku memaklumi. Begitulah rasanya jika berada di posisi "seperti itu". Seperti apapun posisi itu.. Aku tidak berani menghakimi bahwa kamu atau dia, atau mungkin mereka itu KEJI. karena sengaja menjadikan yang semulanya baik-baik saja, menjadi sesakit ini...
Aku baik-baik saja. tidak apa-apa. Aku pernah salah. Pun pernah disalahkan. Jadi aku memaklumi..
Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.
Sudah aku jelaskan tadi. Aku pernah salah. Pun pernah disalahkan. Pernah jatuh. Pun pernah menjatuhkan. Pernah disakiti. Pun pernah menyakiti. Pernah di benci. Pun pernah membenci. Pernah dikhianati. Pun pernah mengkhianati.
Karena PERNAH lalu aku tidak menghakimi. Justru aku memaklumi..
Jadi..coba tukar posisimu menjadi posisiku. Lalu kita ulangi kalimatku tadi. Kalimat itu sudah aku ulangi DUA kali..
Sekarang yang terakhir. Iya. Karena PERNAH lalu aku tidak menghakimi. Aku lebih suka memaklumi.
Virqi,
Semarang 15 Nov'13
Jadi ini bukan hal baru bagiku jika masih ada lagi yang akan mencoba memberi sakit yang lebih banyak lagi ke dalamnya. Karena seberapa hebat pun disakiti berkali-kali, dijatuhkan berkali-kali. Nyatanya hatiku masih sekuat ini, masih seutuh ini, dan masih bisa bangkit pun berkali-kali. Hingga luka dan hinaan hanya akan menjadi bagian yang memang seharusnya ada. Menjadi hal yang sudah sewajarnya ada.
Aku tidak mengeluh, bagaimana bisa aku mengeluh sedangkan hatiku bisa setegar itu berdiri. Dan bisa bangkit lagi meski berjuta-juta kali disayat oleh sembilu. Dari perlakuan yang tak mengenakkan. Dari rasa perihnya ditinggalkan. Dari rasa kecewanya dikhianati. Dari ucapan-ucapan hina yang menghujani. Dari caci maki yang terngiang-ngiang sampai berhari-hari. Apalagi hanya sekedar disakiti karena ingin dibalas dendamkan sejak pernah tanpa sengaja aku sakiti. Aku biasa dengan itu. Aku tidak apa-apa. Bagaimana bisa aku mengeluh? sedangkan hatiku setegar itu :)
Untuk setiap kata. untuk setiap kalimat. untuk setiap laku. untuk setiap perlakuan. untuk tiap-tiap kejadian. Aku pernah jatuh. dan Juga pernah menjatuhkan. Aku pernah disakiti. Aku juga pernah menyakiti. Aku pernah ditinggalkan. Aku juga pernah meninggalkan. Aku pernah di caci maki. Mungkin juga tanpa kusadari aku pernah mencaci maki...
Aku pernah..
Karena pernah lalu aku tidak menghakimi. Justru aku memaklumi. Begitulah rasanya jika berada di posisi "seperti itu". Seperti apapun posisi itu.. Aku tidak berani menghakimi bahwa kamu atau dia, atau mungkin mereka itu KEJI. karena sengaja menjadikan yang semulanya baik-baik saja, menjadi sesakit ini...
Aku baik-baik saja. tidak apa-apa. Aku pernah salah. Pun pernah disalahkan. Jadi aku memaklumi..
Aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.
Sudah aku jelaskan tadi. Aku pernah salah. Pun pernah disalahkan. Pernah jatuh. Pun pernah menjatuhkan. Pernah disakiti. Pun pernah menyakiti. Pernah di benci. Pun pernah membenci. Pernah dikhianati. Pun pernah mengkhianati.
Karena PERNAH lalu aku tidak menghakimi. Justru aku memaklumi..
Jadi..coba tukar posisimu menjadi posisiku. Lalu kita ulangi kalimatku tadi. Kalimat itu sudah aku ulangi DUA kali..
Sekarang yang terakhir. Iya. Karena PERNAH lalu aku tidak menghakimi. Aku lebih suka memaklumi.
Virqi,
Semarang 15 Nov'13
Selasa, 12 November 2013
Hujan dan Piawainya Sang Teduh..
Sebelum sekarang hujan menderai sederas ini,
aku masih berkeringat karena terik mentari yang menyengat semenjak tadi pagi...
Sekarang sudah semakin sore, dan sebentar lagi petang menjemput malam.
Hujan ini sedang asik memandikan bumi dengan airnya..
Kemudian menjadikan waktu beberapa jedaku terkulai kaku karena harus mengingat(mu), yang (pernah) ada..
dulu..
saat hujan mampu menawan mu bersamaku agar bisa lama dan lebih lama lagi berdua denganmu..
atau setidaknya menatap senyumanmu lebih lama.
Bergurau dan bercanda tawa sebahagia itu..
Juga mengingat beberapa bahagia saat berlari-larian ditengah lapangan sekolah jaman putih abu-abu ku (dulu)..
dan mulai lupa akan usia karena terlalu asik menyulam tawa serta gelak canda yang seramai itu..
seindah itu..
Aku ingat.. lalu menderaikan beberapa tetes air mata sambil menatap Hujan yang semenjak tadi masih senang juga menyiramiku dengan cipratan-cipratan kecilnya..
Dingin..
Tapi indah...
Aku Rindu..
Jika hujan datang dan aku sendirian, fikiranku menjadi tidak karuan..
Masih merindukan banyak hal yang sekarang hanya bisa diulangi dalam "ingatan", merasakan indahnya hanya bisa di dalam sana, di "ingatan".
Karena
Yang paling menggemaskan dari Hujan adalah "Kenangannya"..
Tentang bau tanah..
Tentang deras atau gerimis..
Tentang jalan yang tak nampak oleh kabut...
Juga tentang cerita dimana ada secuplik bahagia yang dulu (pernah ada)..
Tapi nyatanya itu hanya ada saat Hujan turun..
Karena pada akhirnya Teduh menjanjikan bahagia yang lebih indah....
Seindah memikirkan bahwa yang indah adalah KITA yang mengkreasikan cinta dengan Bahagia nya masing-masing..
dengan ceritanya masing-masing..
Begitulah teduh berani menjanjikan yang lebih..
dan KITA.. pun harus berani menjanjikan diri sendiri untuk berani bermimpi lebih...
kepada Hujan untuk Teduh..
Hai Hujan yang menunggu Teduh dengan Senyuman
Virqi W. Bianti
Sebuah cinta untuk Hujan..
dan Sebuah sayang untuk Penantian Teduh..
Semarang, 121113.
aku masih berkeringat karena terik mentari yang menyengat semenjak tadi pagi...
Sekarang sudah semakin sore, dan sebentar lagi petang menjemput malam.
Hujan ini sedang asik memandikan bumi dengan airnya..
Kemudian menjadikan waktu beberapa jedaku terkulai kaku karena harus mengingat(mu), yang (pernah) ada..
dulu..
saat hujan mampu menawan mu bersamaku agar bisa lama dan lebih lama lagi berdua denganmu..
atau setidaknya menatap senyumanmu lebih lama.
Bergurau dan bercanda tawa sebahagia itu..
Juga mengingat beberapa bahagia saat berlari-larian ditengah lapangan sekolah jaman putih abu-abu ku (dulu)..
dan mulai lupa akan usia karena terlalu asik menyulam tawa serta gelak canda yang seramai itu..
seindah itu..
Aku ingat.. lalu menderaikan beberapa tetes air mata sambil menatap Hujan yang semenjak tadi masih senang juga menyiramiku dengan cipratan-cipratan kecilnya..
Dingin..
Tapi indah...
Aku Rindu..
Jika hujan datang dan aku sendirian, fikiranku menjadi tidak karuan..
Masih merindukan banyak hal yang sekarang hanya bisa diulangi dalam "ingatan", merasakan indahnya hanya bisa di dalam sana, di "ingatan".
Karena
Yang paling menggemaskan dari Hujan adalah "Kenangannya"..
Tentang bau tanah..
Tentang deras atau gerimis..
Tentang jalan yang tak nampak oleh kabut...
Juga tentang cerita dimana ada secuplik bahagia yang dulu (pernah ada)..
Tapi nyatanya itu hanya ada saat Hujan turun..
Karena pada akhirnya Teduh menjanjikan bahagia yang lebih indah....
Seindah memikirkan bahwa yang indah adalah KITA yang mengkreasikan cinta dengan Bahagia nya masing-masing..
dengan ceritanya masing-masing..
Begitulah teduh berani menjanjikan yang lebih..
dan KITA.. pun harus berani menjanjikan diri sendiri untuk berani bermimpi lebih...
kepada Hujan untuk Teduh..
Hai Hujan yang menunggu Teduh dengan Senyuman
Virqi W. Bianti
Sebuah cinta untuk Hujan..
dan Sebuah sayang untuk Penantian Teduh..
Semarang, 121113.
Kamis, 07 November 2013
Di sepertiga malam(MU)..
Malam..
Iya. Malam..
Iya. Malam..
Tetap cinta akan hiasan malam..
Bagaimana bisa aku mnginginkan yang lain jikalau malam memberiku lebih..
Aku hanya jatuh cinta pada malam..
Oh tidak aku salah..
Aku mencintai TUHANku lebih lebih dari malam..
yang Menciptakan malam seindah kelamnya..
Juga menciptakan siang seindah terangnya..
Juga menciptakan siang seindah terangnya..
Pun masih rela mengizinkan keningku menyapa_Nya dalam sujud di sepertiga malam..
Untuk mencintai_Nya lebih dari sekedar malam dan fana nya alam..
Mencandu cinta_Nya lebih dari sekedar butuh penerang di kala kelam..
Iya. Aku kecanduan cinta dari_Nya.
Mencandu cinta_Nya lebih dari sekedar butuh penerang di kala kelam..
Iya. Aku kecanduan cinta dari_Nya.
Selamat malam! :)
Virqi
Semarang, 07 Nov'13
Rabu, 06 November 2013
Satu Jam Lalu masih Tengah Malam, sekarang?
Gerah..
malam ini cuacanya sangat gerah. Untuk lelap tidur pun itu susah. Lalu aku memilih untuk duduk sambil membuka pintu kamarku agar secercah udara mampu masuk dan memberi udara segar lainnya, sehingga gerah tidak senyata ini..
Kemudian tanganku gatal karena ingin asik bermanjakan ketikan demi ketikan pada layar Notebook Pink ku. Iya. Sekarang jemariku sedang asik bercengkrama dengan keyboard kecil ini...
Sementara hanya terdengar senyap sepi diantara pertengahan malam yang sudah lewat kira-kira satu jam yang lalu. Hanya tinggal tersisa percikan syahdu malam dengan paduan heningnya, atau sekelibat terdengar suara kendaraan bermotor lewat memecah hening malam...
Tetiba saja listrik padam, menyergap malam yang sunyi dengan kegelapan, ditambah dengan merdunya nyanyian jangkrik malam. Yang aku fikir sepertinya tadi tidak terdengar.. sedang aku masih asik bergurau dengan layar dan keyboard ini. Sementara kipas angin tak lagi bisa berputar karena daya listriknya padam. Begitu pun suasana yang masih juga gerah, dan sekarang semakin gerah (lagi)..
Bagaimana ini?
Aku sudah tidak bisa tertidur lagi. Notebook ku sebentar lagi padam karena daya nya sudah hampir habis..
Aku sudah tidak bisa tertidur lagi. Notebook ku sebentar lagi padam karena daya nya sudah hampir habis..
Sementara listrik masih belum dinyalakan juga.
Tapi aku masih ingin berlanjut ria mengolah kata..
Aaahhh sepertinya lebih baik aku tidur saja..
Ini sudah lebih dari Larut malam..
Tubuhku butuh dari hanya sekedar mencandu lelah dengan lelapnya istirahat di waktu malam..
Tubuhku butuh dari hanya sekedar mencandu lelah dengan lelapnya istirahat di waktu malam..
Aku harus tidur..
dan lelap di buaian malam..
Iya...
Selamat malam..! :)
Virqi,
Semarang 6 Nov'13
Senin, 04 November 2013
Istimewa Bagi(ku), Ya begini..
Tidak ada yang istimewa hari ini..
Tidak ada..
Hanya beberapa hembusan angin membawa debu di pertengahan terik siang, atau sekedar panas yang menyengat di kala matahari sedang sangat-sangat bahagianya menerangi.. Juga sesekali hujan membasahi debu yang terbengkalai karena tak dihiraukan oleh air yang dibasahi oleh tangisan awan.. Mungkin karena beberapa bulan yang lalu awan sedang sangat-sangat bahagianya, sehingga lupa untuk sekedar bersedih sendu, apalagi menangis...
Mungkin..
Kata "mungkin" ini mengindikasikan bahwa semua pernyataan yang aku tuliskan belum tentu benar adanya, bisa saja salah, bisa saja tidak benar, bisa saja sangat-sangat salah dan tidak benar. Iya. Jangan Percaya.
Karena mungkin..
Ada banyak hal istimewa yang tidak aku sebutkan karena LUPA. Tapi jangan salahkan aku jika masih bisa menyempatkan diri untuk LUPA. Iya. Aku manusia. Yang diciptakan sempurna oleh Tuhanku (Allah). Yang masih bisa Melupa dan Khilaf sekali atau bahkan "mungkin" berkali-kali..
Karena sebenarnya.. Setiap hari itu bagiku istimewa..
Tidak muluk-muluk meminta yang lebih dari ini. Satu nafas yang Tuhan berikan untukku itu Istimewa. Karena tanpa Nafas, kamu bukanlah kamu hari ini. Bukan. Jadi masih mampu bernafas itu istimewa. Masih mampu Tertawa dan Tersenyum itu istimewa. Masih bisa bersedih dan tertawa itu istimewa. Masih bisa mencintai dan dicintai itu Istimewa. Juga memiliki orang-orang yang peduli disekitarmu itu Istimewa..
Tidak harus meminta yang muluk-muluk, yang lebih dari ini. Karena Tuhan mencintaimu dengan Istimewa. Percaya itu. :)
Virqi,
Semarang 4 Nov'2013.
Tidak ada..
Hanya beberapa hembusan angin membawa debu di pertengahan terik siang, atau sekedar panas yang menyengat di kala matahari sedang sangat-sangat bahagianya menerangi.. Juga sesekali hujan membasahi debu yang terbengkalai karena tak dihiraukan oleh air yang dibasahi oleh tangisan awan.. Mungkin karena beberapa bulan yang lalu awan sedang sangat-sangat bahagianya, sehingga lupa untuk sekedar bersedih sendu, apalagi menangis...
Mungkin..
Kata "mungkin" ini mengindikasikan bahwa semua pernyataan yang aku tuliskan belum tentu benar adanya, bisa saja salah, bisa saja tidak benar, bisa saja sangat-sangat salah dan tidak benar. Iya. Jangan Percaya.
Karena mungkin..
Ada banyak hal istimewa yang tidak aku sebutkan karena LUPA. Tapi jangan salahkan aku jika masih bisa menyempatkan diri untuk LUPA. Iya. Aku manusia. Yang diciptakan sempurna oleh Tuhanku (Allah). Yang masih bisa Melupa dan Khilaf sekali atau bahkan "mungkin" berkali-kali..
Karena sebenarnya.. Setiap hari itu bagiku istimewa..
Tidak muluk-muluk meminta yang lebih dari ini. Satu nafas yang Tuhan berikan untukku itu Istimewa. Karena tanpa Nafas, kamu bukanlah kamu hari ini. Bukan. Jadi masih mampu bernafas itu istimewa. Masih mampu Tertawa dan Tersenyum itu istimewa. Masih bisa bersedih dan tertawa itu istimewa. Masih bisa mencintai dan dicintai itu Istimewa. Juga memiliki orang-orang yang peduli disekitarmu itu Istimewa..
Tidak harus meminta yang muluk-muluk, yang lebih dari ini. Karena Tuhan mencintaimu dengan Istimewa. Percaya itu. :)
Virqi,
Semarang 4 Nov'2013.
Minggu, 27 Oktober 2013
Alone or U're gonna be Lonely..
I like drinking milkshake alone and reading alone. I like riding a motorcycle alone and walking home alone. It gives me time to think and set my mind free. I like eating alone and listening to music alone. But when I see a mother with her child, a boy with with his lover, or a friend laughing with their bestfriend, I realize that even though I like being alone, I don't fancy being lonely. The sky is beautiful, but the people are sad. I just need someone who won't run away, hopefully. :')
Rabu, 23 Oktober 2013
Mengingatmu (Lagi)..
Aku ingin menuliskanmu dengan indah malam ini, dengan bahasa yang aku rangkai serupawan mungkin, sebenar mungkin.. seperti kamu..
Beberapa waktu sebelum ini hatiku buta karena terlalu bahagia menceritakan orang lain yang tidak semestinya aku bangga-banggakan. Karena nyatanya memang tidak ada.
Aku nampak sangat bahagia menjadikan orang lain selain kamu terlihat sangat sempurna, sebisa itu menciptakan tawa diantara kerutan bibirku, hingga pipiku terlihat lebih menonjol karena terangkat ke atas, lalu mataku menyipit karena terdesak oleh pipiku..
Begitu..
Tapi kenyataannya, orang lain hanya akan tetap menjadi orang lain. Orang lain yang tidak pernah tau bagaimana caranya mencintaiku dengan benar, tidak se-benar kamu. Secara nyata, cuma kamu yang mampu mencintaiku dengan cara yang paling benar, aku tau itu.
Hanya saja aku lupa...
Karena terlalu kalut melihat pelangi yang baru saja muncul ketika hari baru saja berhenti dari hujan yang lebat. Aku lupa. Bahwa matahari tidak pernah berhenti menerangi pagiku hingga petang, bahkan bersama bulan pun yang mampu ia terangi untuk malam.. Aku lupa..
Sehingga aku berfikir bahwa tanpa kamu aku baik-baik saja.. seperti tanpa matahari aku akan terbiasa, karena sepertinya pelangi lebih indah daripada matahari...
Aku tau itu.. aku tau ini salahku..
Mengingat pelangi begitu indah.. sementara kedatangannya tidak pernah jelas. tidak selalu ada.
Dan bergaya seolah mampu hidup tanpa matahari.. sementara matahari selalu ada sepanjang-panjang hari yang selalu aku butuhkan.. dan tanpanya.. apa jadinya aku..
Akhirnya aku tau itu..
Lalu mengingatmu (lagi)..
Beberapa waktu sebelum ini hatiku buta karena terlalu bahagia menceritakan orang lain yang tidak semestinya aku bangga-banggakan. Karena nyatanya memang tidak ada.
Aku nampak sangat bahagia menjadikan orang lain selain kamu terlihat sangat sempurna, sebisa itu menciptakan tawa diantara kerutan bibirku, hingga pipiku terlihat lebih menonjol karena terangkat ke atas, lalu mataku menyipit karena terdesak oleh pipiku..
Begitu..
Tapi kenyataannya, orang lain hanya akan tetap menjadi orang lain. Orang lain yang tidak pernah tau bagaimana caranya mencintaiku dengan benar, tidak se-benar kamu. Secara nyata, cuma kamu yang mampu mencintaiku dengan cara yang paling benar, aku tau itu.
Hanya saja aku lupa...
Karena terlalu kalut melihat pelangi yang baru saja muncul ketika hari baru saja berhenti dari hujan yang lebat. Aku lupa. Bahwa matahari tidak pernah berhenti menerangi pagiku hingga petang, bahkan bersama bulan pun yang mampu ia terangi untuk malam.. Aku lupa..
Sehingga aku berfikir bahwa tanpa kamu aku baik-baik saja.. seperti tanpa matahari aku akan terbiasa, karena sepertinya pelangi lebih indah daripada matahari...
Aku tau itu.. aku tau ini salahku..
Mengingat pelangi begitu indah.. sementara kedatangannya tidak pernah jelas. tidak selalu ada.
Dan bergaya seolah mampu hidup tanpa matahari.. sementara matahari selalu ada sepanjang-panjang hari yang selalu aku butuhkan.. dan tanpanya.. apa jadinya aku..
Akhirnya aku tau itu..
Lalu mengingatmu (lagi)..
Selasa, 22 Oktober 2013
Karena di hidupmu aku Hidup..
Tadi malam..atau Kemarin, atau hari-hari sebelum tadi malam..
Aku (Sempat) berfikir ingin segera pergi darimu,
ingin berusaha lekas-lekas menghilang dari kehidupanmu, juga dari kasih sayangmu...
Beberapa hari sebelum tadi malam..
Aku kehilangan fikiranku tentang kamu, apalagi tentang mencintaimu..
Di dalam anganku, hanya ada (dia) yang sedang merajai alam bawah sadarku, membawaku untuk berandai-andai bahwa hidup dengannya akan banyak disediakan rasa bahagia.
Bahwa dengan menggenggam jemarinya, aku akan tidak serumit ini.
Meski semua angan dan pengandaianku hanya berada secara timpang karena adanya hanya difikiranku, tidak di fikiran dia. Hanya aku yang mengharapkan pengandaian itu nyata, sementara dia, tidak jelas apakah iya apakah hanya karena otakku terlalu berfikir dia akan berfikiran yang sama denganku. Dan pada nyatanya sampai sekarang pun aku (masih) tidak tau....
Beberapa hari sebelum tadi malam..
Fikiranku tidak sedang mengingatmu, apalagi mencintaimu.
Sampai akhirnya..
Tadi malam, malam menuju fajar, saat sebagian besar insan sedang beristirahat dalam lelapnya tidur. Jari-jemariku terlalu egois menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga memenuhi teks pesan di ponselku, kemudian laporan terkirim dengan jelas atas namamu.. Lalu aku tertidur dan berharap saat bangun kamu akan membacanya lalu menghubungiku..
Aku membuka mata, aah (lagi) aku terbangun lebih lama setelah matahari terbit, tapi.. tidak ada satupun pesan teks di ponselku. Tidak ada pemberitahuan apapun bahwa kamu telah menghubungiku. Aku (kecewa), kemudian berfikir sangat lama.
Fikiranku lalu hambur tak karuan. Aku takut kamu sedang berfikir sangat lama, aku takut kamu sedang diam dan bersedih dalam dimensi fikirmu yang tidak aku tau. Aku takut kamu sedang menyimpan sendu itu sendiri... Semakin lama hatiku tak menentu. Aku (takut) lagi untuk berfikir setelah ini akan hidup tanpa kamu. Rasanya tak karuan kataku.
Sampai kemudian kamu menghubungiku dengan nomor lain. Aku (masih) takut dengan itu.
Tapi......
Jauh di luar fikiranku. Jauh dari apa yang aku bayangkan.
Kamu memintaku untuk menemanimu pergi seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa, seperti hari-hari lainnya.
Aku masih bingung..
Hari ini kamu manis sekali, senyummu, tawamu, dan juga canda-candamu. Ada apa denganmu??
Rasanya sangat bahagia bisa bercanda tawa denganmu setelah beberapa saat sebelum ini rasanya sangat kelabu. Rasanya tidak ada lagi yang perlu aku perjuangkan tentang kamu.
Tapi, ada apa denganmu??
Hari ini kamu manis sekali, memanjakanku dengan candamu, dengan kelembutanmu??
Aahh.. bagaimana bisa semalam aku mengirim pesan teks ingin (meninggalkanmu) dan pergi mencari yang lebih baik darimu, ketika saat ini aku justru sangat ingin berlama-lama dan terus bersama-sama denganmu.. Bagaimana mungkin... Aku tidak tau..
Kemudian lidahku kelu. Dan bertanya. "kenapa pesanku tadi malam tidak ditanggapi??", dengan rasa takut aku berusaha menerima apapun jawabanmu.
"tadi pagi, sebangun tidur dengan mata masih sangat mengantuk, pesan itu masuk bertubi-tubi di ponselku, tapi tanpa aku sadari, sebelum sempat membaca, pesan tersebut tanpa sengaja ter-delete, dan kemudian aku tertidur lagi". Begitu katamu..
Lalu aku menarik nafas panjang sampai beberapa detik, dan mengeluarkannya pun lama sampai beberapa detik pula. (Terimakasih Tuhan) kau telah memberiku kesempatan berfikir lebih dalam terlebih dulu.
Sampai pada akhirnya aku memilih untuk tetap disini.
Di pundakmu (lagi).
Karena kapan pun juga aku meminta yang lebih baik darimu, Tuhan pasti memberiku lebih dari satu, bahkan banyak.
Tapi yang cukup aku tau. Seberapa pun banyaknya yang lebih baik dari kamu, kamu tetap satu, yang mencintaiku, dan menjaga bahagiaku dengan caramu, yang lebih mengerti aku daripada diriku sendiri..
Karena kamu cuma satu..
Aku memilih untuk tetap berada disini.. di hidupmu.. (lagi) ..
Karena nyatanya, dihidupmu aku hidup..
Virqi
Semarang, 22 Oktober 2013
Aku (Sempat) berfikir ingin segera pergi darimu,
ingin berusaha lekas-lekas menghilang dari kehidupanmu, juga dari kasih sayangmu...
Beberapa hari sebelum tadi malam..
Aku kehilangan fikiranku tentang kamu, apalagi tentang mencintaimu..
Di dalam anganku, hanya ada (dia) yang sedang merajai alam bawah sadarku, membawaku untuk berandai-andai bahwa hidup dengannya akan banyak disediakan rasa bahagia.
Bahwa dengan menggenggam jemarinya, aku akan tidak serumit ini.
Meski semua angan dan pengandaianku hanya berada secara timpang karena adanya hanya difikiranku, tidak di fikiran dia. Hanya aku yang mengharapkan pengandaian itu nyata, sementara dia, tidak jelas apakah iya apakah hanya karena otakku terlalu berfikir dia akan berfikiran yang sama denganku. Dan pada nyatanya sampai sekarang pun aku (masih) tidak tau....
Beberapa hari sebelum tadi malam..
Fikiranku tidak sedang mengingatmu, apalagi mencintaimu.
Sampai akhirnya..
Tadi malam, malam menuju fajar, saat sebagian besar insan sedang beristirahat dalam lelapnya tidur. Jari-jemariku terlalu egois menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga memenuhi teks pesan di ponselku, kemudian laporan terkirim dengan jelas atas namamu.. Lalu aku tertidur dan berharap saat bangun kamu akan membacanya lalu menghubungiku..
Aku membuka mata, aah (lagi) aku terbangun lebih lama setelah matahari terbit, tapi.. tidak ada satupun pesan teks di ponselku. Tidak ada pemberitahuan apapun bahwa kamu telah menghubungiku. Aku (kecewa), kemudian berfikir sangat lama.
Fikiranku lalu hambur tak karuan. Aku takut kamu sedang berfikir sangat lama, aku takut kamu sedang diam dan bersedih dalam dimensi fikirmu yang tidak aku tau. Aku takut kamu sedang menyimpan sendu itu sendiri... Semakin lama hatiku tak menentu. Aku (takut) lagi untuk berfikir setelah ini akan hidup tanpa kamu. Rasanya tak karuan kataku.
Sampai kemudian kamu menghubungiku dengan nomor lain. Aku (masih) takut dengan itu.
Tapi......
Jauh di luar fikiranku. Jauh dari apa yang aku bayangkan.
Kamu memintaku untuk menemanimu pergi seperti biasanya, seperti tidak terjadi apa-apa, seperti hari-hari lainnya.
Aku masih bingung..
Hari ini kamu manis sekali, senyummu, tawamu, dan juga canda-candamu. Ada apa denganmu??
Rasanya sangat bahagia bisa bercanda tawa denganmu setelah beberapa saat sebelum ini rasanya sangat kelabu. Rasanya tidak ada lagi yang perlu aku perjuangkan tentang kamu.
Tapi, ada apa denganmu??
Hari ini kamu manis sekali, memanjakanku dengan candamu, dengan kelembutanmu??
Aahh.. bagaimana bisa semalam aku mengirim pesan teks ingin (meninggalkanmu) dan pergi mencari yang lebih baik darimu, ketika saat ini aku justru sangat ingin berlama-lama dan terus bersama-sama denganmu.. Bagaimana mungkin... Aku tidak tau..
Kemudian lidahku kelu. Dan bertanya. "kenapa pesanku tadi malam tidak ditanggapi??", dengan rasa takut aku berusaha menerima apapun jawabanmu.
"tadi pagi, sebangun tidur dengan mata masih sangat mengantuk, pesan itu masuk bertubi-tubi di ponselku, tapi tanpa aku sadari, sebelum sempat membaca, pesan tersebut tanpa sengaja ter-delete, dan kemudian aku tertidur lagi". Begitu katamu..
Lalu aku menarik nafas panjang sampai beberapa detik, dan mengeluarkannya pun lama sampai beberapa detik pula. (Terimakasih Tuhan) kau telah memberiku kesempatan berfikir lebih dalam terlebih dulu.
Sampai pada akhirnya aku memilih untuk tetap disini.
Di pundakmu (lagi).
Karena kapan pun juga aku meminta yang lebih baik darimu, Tuhan pasti memberiku lebih dari satu, bahkan banyak.
Tapi yang cukup aku tau. Seberapa pun banyaknya yang lebih baik dari kamu, kamu tetap satu, yang mencintaiku, dan menjaga bahagiaku dengan caramu, yang lebih mengerti aku daripada diriku sendiri..
Karena kamu cuma satu..
Aku memilih untuk tetap berada disini.. di hidupmu.. (lagi) ..
Karena nyatanya, dihidupmu aku hidup..
Virqi
Semarang, 22 Oktober 2013
Kamis, 10 Oktober 2013
For My Day ..
10
Oktober 2013
Selamat
Ulang Tahun ke-21 Virqi..
Semoga
kelak bahagia masih akan setia bersahabat pada nyatanya harimu..
Meski
menuju bahagia kamu harus juga setia melewati banyak duka..
Semoga..
Banyak
hal yang belum bisa kamu tuju di waktu yang lalu, masih bisa kamu kejar pada
waktu di kemudian hari setelah hari ini..
Juga
setiap angan yang masih kamu idam-idamkan sebelum ini menjadi nyata tepat pada
waktunya..
Semoga..
Allah
selalu menjadi panutan yang kamu Cintai sepanjang detik waktu dan tiap hirup
nafas yang masih bisa kamu nikmati saat ini....
Serta
cinta yang tumbuh sebelum kamu dilahirkan di kandungan Ibu mu.. begitu juga
cinta pada sang Ayah yang rela bersusah payah untuk menghidupimu dengan rizeki
halal nya...
Maka
cintai mereka dengan tulus yang luar biasa dari hatimu...
Beserta
adik-adik yang selalu ceria membagi bahagia dan tawanya untuk mencintaimu,
tanpa pernah meminta hal lain selain juga cinta darimu...........
Selamat
ulang tahun Virqi...
Tidak
ada yang lebih bahagia selain menciptakan bahagia untuk orang-orang yang kamu
cintai...
Juga
kebahagiaan untuk dirimu sendiri.....
Semoga...
Belahan
hatimu akan segera datang menjanjikan seluruh hidupnya untuk bahagia bersamamu..
Untuk
mencintaimu.. dan mencintai anak-anakmu kelak.....
Jadi
... jangan terburu-buru untuk mengharap semua hal datang dengan cepat sayang...
Karena
Allah sudah menyiapkan semua bahagia mu tepat di waktunya nanti...
Dan
bahagialah untuk hari ini...
Simpan
dulu duka mu...
Tersenyumlah................
untuk lembaran baru di usia 21...
Bismillahirrohmanirrohiiimm....
Rabu, 09 Oktober 2013
Bersama senja..Tanpamu..
Kamu tau??
Acapkali hari mulai senja..
Matahari berbinar jingga memasuki tiap rongga di ruanganku..
Seindah itu...
Hingga bising lalu lalang kendaraan pun mulai senyap.. sepi...
Seketika itu ingatanku kembali mengingatmu..
Sesederhana itu..
Fikiranku tercaci maki karena berusaha menghilangkan namamu di dalamnya..
Aaahh mana mungkin..
Acapkali hari mulai senja..
Matahari berbinar jingga memasuki tiap rongga di ruanganku..
Seindah itu...
Hingga bising lalu lalang kendaraan pun mulai senyap.. sepi...
Seketika itu ingatanku kembali mengingatmu..
Sesederhana itu..
Fikiranku tercaci maki karena berusaha menghilangkan namamu di dalamnya..
Aaahh mana mungkin..
Mana mungkin kamu
tau,
Sementara diantara
jeda pertemuan kita, kamu hanya sebaik itu menyebutku sebagai kenalanmu..
sebagai seseorang yang pernah kamu tau..
Sebatas itu..
Kamu hanya sekilas
waktu hadir tapi tak bisa pergi lagi dari fikirku..
Tak bisa sesegera
mungkin untuk tak terngiang-ngiang di dalam otakku...
Aaah sayang sekali..
Jika saja saat itu
aku memilih untuk Alpa agar tak bertemu denganmu..
Jika saja...
Jika saja aku diberi
peluang untuk memilih...
Dalam hitungan
detik jemariku akan mendekapmu seerat mungkin..
Sekuat mungkin..
Sehingga kelak aku
tak harus terlunta-lunta melupakanmu seperti ini...
Sehingga aku tak
harus mencari tau diam-diam tentangmu seMiris ini...
Aaahhh itu hanya “jika
saja”..
Kenyataannya aku
kehilanganmu (lagi).......................
Dan
senja mulai redup..
Jingga
yang berbinar mulai berganti dengan kelam..
Matahari
sudah tak nampak lagi..
Hingga
petang sigap datang membawa malam dengan cahaya bulan dan bintang...
Lalu senja
ditinggalkan dengan diam-diam........
Bersama
senja hari ini dan bertemu senja hari esok lagi dan lagi...
Aku
masih kerap kali mengingatmu.... (lagi)
Virqi
Semarang, 08 Oktober 2013.
Virqi
Jumat, 04 Oktober 2013
Jogja, Katanya ..
Jogja..
Katanya
kota yang paling nyaman untuk jatuh cinta..
Saya
beritahu..
Ketika
anda membaca ini lalu bilang “Aaaah itu hanya katanya, Jatuh cinta bisa nyaman
dimana saja, siapa yang tau.. entah itu di Jogja.. entah juga itu di Jakarta..
entah juga di Semarang.. Itu hanya ‘katanya’..”
Sekali
lagi..
Jogja
katanya kota yang paling nyaman untuk jatuh cinta.. Lalu ditinggalkan...
Jadi
jika nanti Anda berada di Jogja.. Anda akan jatuh cinta.. tapi kemudian Anda
akan ditinggalkan oleh bahagia dan nyamannya hanya disana.. hanya ditempatnya..
kemudian saat Anda pergi, Anda sadar bahwa ada bahagia dan kenyamanan disana
yang sudah ditinggalkan...
Sudah
sebaiknya Anda ciptakan sebagai kenangan..
Begitu
seharusnya.........................................
Tulisan
ini hanya diperuntukkan Jika anda bukan dari Jogja..
Karena
sekali lagi saya katakan...
Jogja
akan jadi kota yang paling nyaman untuk Jatuh Cinta.. kemudian Anda
ditinggalkan...
Ditinggalkan
oleh kenangan indahnya disana..
Begitulaah..
katanya...
Virqi
Semarang, 04
Oktober 2013
Minggu, 15 September 2013
Beberapa Saat sebelum Kamu Pergi..
Oleh: Virqi Wahyuning Bianti
Beberapa
jam yang lalu sepertinya ada dua orang yang pergi, tapi aahh sepertinya lebih
dari itu. Mungkin tiga atau kali malah empat lima enam dan...bangku itu satu
per satu termangu karena tak diduduki pemiliknya. Sepertinya baru beberapa saat
lalu aku tertawa dan saling mengenal dengan menjabatkan kedua tangan
masing-masing. Sepertinya...aahh..Mungkin setelah ini hanya akan jadi tempat
yang kemudian akan sangat aku rindu. Dan masih saja aku duduk memperhatikan
pemilik bangku itu pergi satu per satu..
***
Part
I
Pagi
yang masih begitu cerah, bahkan matahari baru saja mengintip samar-samar di
ufuk timur sana. Aku masih berjalan satu langkah hingga ratusan langkah dari
kosan tercinta menuju kampus perdanaku. Mengenakan pakaian Putih dan hitam
dengan pita biru dan kuning yang menempel di jilbab putihku. Sepatu ku pun
berwarna hitam legam dengan wajah seadanya. Hitam, kusam, penuh dengan jerawat
sebagai pertanda, inilah aku, mahasiswa baru yang datang seadanya dan pasrah
apapun dikata seniornya. Masih sepolos itu, masih sangat mengIYAkan perintah
dan mendengarkan apa yang harus didengarkan, melakukan apa yang seharusnya
dilakukan.
Duduk
berbaris, makan berbaris, berdiri pun dengan barisan. “Aahh kak, rasanya kakiku
mulai keram karena terlalu lama berdiri, atau karena malah terlalu lama duduk
berdiam diri. Aahh kak, aku sangat sangat mengantuk, bisakah bapak yang
berbicara di depan itu segera mempercepat pidatonya. Aaahh kak, kenapa terlalu
banyak tugas dan kegiatan yang harus kami kerjakan..Aaahh kak.....”
Demikian
terus hingga lelah pun dilupakan dengan senyumanmu, candamu serta bahagiamu
saat saling menjabatkan kedua tangan dengan menjanjikan bahwa “Aku sekarang menjadi temanmu.. entah nanti
jadi seperti apapun aku..kita mulai disini dengan mengenalkan namaku dan
namamu.. entah nanti kita seAkrab itu, entah nanti kita bertengkar sehebat itu,
entah nanti kita akan sangat membutuhkan sebutuh itu...Aku akan tetap jadi
temanmu..Jadi keluargamu di Kampus ini..Percaya itu, hingga kelak mungkin
kampus ini hanya akan menjadi kenanganmu dan kenanganku, Ingat saja..kita buka
dengan hari ini..”
Seperti
itu..
Kemudian
janji itu dimulai semenjak jemarimu menjabat jemariku. Tanpa Kata. Semenjak itu
kamu berjanji seperti itu terhadapku. Jadi aku pegang janjimu. Seperti itu...
***
Part
II

Sempat
beberapa saat aku ingin mengadu, ingin menangis, ingin meneriakkan betapa
tersiksanya menyelesaikan ribuan kata dengan jemariku. Kemudian lagi Tuhan
mengajariku bagaimana caranya menjadi lebih kuat lagi dan lagi. Menjadi semakin
tegar lagi dan lagi. Menjadi lebih dewasa kian hari per hari. Hingga nanti aku
dibiarkan untuk mampu hidup dengan mandiri. Aku dibiarkan sulit dan sesulit ini
dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya jemariku tak mengenal rasa ngilu, sampai
akhirnya mataku tak mengenal rasa kantuk yang menggebu-gebu, sampai akhirnya
pena biru menjadi sahabat paling mengerti bagi jemariku. Sampai akhirnya lelah
itu sendiri lelah mengikutiku.. Aku masih bisa berdiri tegar seperti ini..Masih
bisa tersenyum seindah ini,, ini juga berkat ada kamu..yang menepuk pundakku
ketika aku lelap karena tertidur pulas, yang selalu menemaniku ketika aku
merasa sangat sendirian, yang menguatkan hatiku ketika aku mulai menguraikan
air mata, yang mau dengan ikhlasnya berbagi suka dan duka. Iya, seperti itulah mengapa
aku masih saja selalu suka bersamamu.
***
Part III
Langkahku tidak berhenti
hanya berada di dalam ruangan berbangku, dengan layarnya berupa papan tulis
putih yang mulai kusam karena selalu beradu dengan spidol hitam. Tidak juga
hanya mendengarkan materi yang dosen berikan lalu terkantuk-kantuk sambil
bergaya seolah jemari menuliskan catatan-catatan penting. Padahal sedari awal
hanya ada peta garis bergaris tak karuan karena pulas mencatat cerita dalam buaian
kantuk...Aaaahh tidak, bagaimana aku bisa belajar jika catatanku kosong...
***
Beberapa
langkah yang tak jauh dari tempat itu. Banyak sekali tambak yang menampakkan
pesona akan ikan atau udang, atau juga rumput laut yang asik bertengger ria
didalamnya. Tempat dimana aku pernah bersusah kaki harus melewati lumpur yang
dalamnya setinggi pinggangku, hanya untuk sampai ke bagian seberangnya. Tempat
dimana wajahku semakin tak rupawan dengan masker lumpur alami dari dasar
tambak. Tempat dimana aku masih se’semangat itu melangkah dari satu tempat ke
tempat lainnya. Masih sebahagia itu melihat tawa dan tangismu secara bersamaan.
Masih seindah itu, saat itu.....
***
End Part
Tapi
tempat ini sekarang tiba-tiba asing. Bangku yang dulunya penuh mulai satu per
satu tak ditempati lagi oleh penghuninya. Tempat ini lama-lama menjadi tidak
sama lagi. Menjadi tak seramai itu lagi.
Aku
masih mengingat beberapa saat lalu kamu mencubit lenganku karena tertidur pulas
di kelas, aku masih mengingat beberapa jam yang lalu kamu masih memanggilku
untuk berlari lekas-lekas karena kuliah akan segera dimulai. Aku masih mengingat
kemarin kamu masih tersenyum bahagia berjalan bersama-sama denganku. Sepertinya
baru saja tadi aku bersamamu... Tapi... Bangku yang kau duduki hari ini kosong.
Kamu tidak sedang bersamaku lagi, begitu juga beberapa bangku lainnya
disekitarku..
Diamku
menyengajakan fikiranku mengingat semua tentang kamu. Membiarkan otakku
dipenuhi semua angan tentang kamu. Beberapa
saat sebelum kamu pergi.. Kelas ini masih sangat ramai..
Tapi
kini aku mengerti.......
Kelas
ini sudah diciptakan untukmu dan untukku seindah itu. Dengan datang bersama,
kemudian berjalan bersama, dan susah sedih bersama.. Aku tau.. pada akhirnya
aku dan kamu harus berjuang sendiri untuk menciptakan kehidupannya sendiri...
Kali ini aku tidak bisa terus menerus menggandeng jemarimu setiap waktu, karena
mimpi kita tidak sama. Jalan kita tidak sama... Kita punya jalan yang
semestinya kita miliki dengan perjuangannya sendiri-sendiri.. Aku tau.... sekarang
bukan seperti saat kita masih dibangku sekolah..Datang bersama kemudian pergi
bersama... Kali ini kita pergi dengan perjuangan kita sendiri-sendiri..dengan
cara kita sendiri, dan dengan waktu kita sendirii.... Kali ini begitu.. Aku
harap kamu mengerti... Aku tidak bisa lagi memaksamu untuk tetap berlama-lama
disini..
Tapi
bagaimana jika aku rindu?? Bahkan baru saja satu detik kamu tidak disini aku
sudah merindu sehebat ini... Kita datang dari tempat yang berbeda, dari jarak
yang berupa-rupa..dari tempat yang tak mampu aku jangkau dengan jarak pandang
mata.. Entah itu kapan aku mampu menggandeng jemarimu lagi dan menyambung
senyuman bersamamu lagi.. Entah kapan... Rasanya masih ingin berbagi tawa
denganmu setiap hari ........................................ masih ingin.
Aku
tidak tau...
Tapi
aku masih ingat, dengan janji yang kau sampaikan saat jemarimu dan jemariku
saling berjabat tangan mengenalkan nama masing-masing. Aku masih ingat..
seperti ini...
“Aku sekarang menjadi temanmu..entah nanti jadi seperti apapun
aku..kita mulai disini dengan mengenalkan namaku dan namamu..entah nanti kita seAkrab
itu, entah nanti kita bertengkar sehebat itu, entah nanti kita akan sangat
membutuhkan sebutuh itu...Aku akan tetap jadi temanmu..Jadi keluargamu di
Kampus ini..Percaya itu, hingga kelak mungkin kampus ini hanya akan menjadi
kenanganmu dan kenanganku, Ingat saja..kita buka dengan hari ini..”
Dan janji itu masih sama... “Entah nanti kamu berada jauh dariku, entah nanti tempatku dekat denganmu, entah nanti mungkin aku tak bisa bertemu lagi denganmu, entah nanti aku bisa bertemu denganmu setiap waktu... Ingat saja..Aku tetap temanmu.. Tidak akan ada yang mampu menciptakan JEDA pertemanan selain Tuhan. Sampai kelakTuhan benar-benar memisahkan Aku dan kamu.....bukan soal jarak..bukan soal waktu..dimanapun tempatnya..Ingat saja..Aku tetap temanmu..”
Jadi
tetaplah seperti ini...kamulah temanku... sahabatku... keluargaku....
bahagialah mengejar impian kita... entah itu ada sembilan puluhan lebih mimpi
dari keseluruhan jumlah kita.. sebanyak itu dan lebih lagi dari itu aku
mengingat kamu.. seramai itu kamu menciptakan bahagia dikelasku... sampai suatu saat nanti.. kelas ini hanya akan jadi “Bukti Kenangan” tanpa kata yang berbahagia
melihat alumni penghuninya mengukir sukses-sukses hidupnya di luar sana.....
Jadi
tetaplah seperti ini.........
Kamulah
sahabatku.. temanku .. J
Beberapa saat
sebelum kamu pergi..Kelas ini masih sangat ramai .. :’)
Special Dedicated for All of My Best Friend at THP
(Teknologi Hasil Perikanan) 2009 FPIK UNDIP.
Bahkan satu hari
bersama kalian bisa menjadi satu buku untuk dituliskan...Apalagi empat tahun...
:’)
Mungkin tulisan
ini tidak bisa selengkap itu..
Tulisan ini hanya bisa sebatas itu..sebatas membantu
mengenang sekecil itu...
Selebihnya kenangan itu lebih banyak bahagia
tersimpan di hati & fikiran kita masing-masing.....
Terima Kasih..
Selalu bahagia dipertemukan oleh kalian semua....
VirQi
Semarang, 13-14
September 2013
( Mohon maaf apabila ada pihak yang dirugikan dari penulisan ini dan apabila ada foto yang kurang sesuai.. foto diambil secara acak dari album yang saya miliki ) ...
( Mohon maaf apabila ada pihak yang dirugikan dari penulisan ini dan apabila ada foto yang kurang sesuai.. foto diambil secara acak dari album yang saya miliki ) ...
Langganan:
Postingan (Atom)