Oleh: Virqi Wahyuning Bianti
Beberapa
jam yang lalu sepertinya ada dua orang yang pergi, tapi aahh sepertinya lebih
dari itu. Mungkin tiga atau kali malah empat lima enam dan...bangku itu satu
per satu termangu karena tak diduduki pemiliknya. Sepertinya baru beberapa saat
lalu aku tertawa dan saling mengenal dengan menjabatkan kedua tangan
masing-masing. Sepertinya...aahh..Mungkin setelah ini hanya akan jadi tempat
yang kemudian akan sangat aku rindu. Dan masih saja aku duduk memperhatikan
pemilik bangku itu pergi satu per satu..
***
Part
I
Pagi
yang masih begitu cerah, bahkan matahari baru saja mengintip samar-samar di
ufuk timur sana. Aku masih berjalan satu langkah hingga ratusan langkah dari
kosan tercinta menuju kampus perdanaku. Mengenakan pakaian Putih dan hitam
dengan pita biru dan kuning yang menempel di jilbab putihku. Sepatu ku pun
berwarna hitam legam dengan wajah seadanya. Hitam, kusam, penuh dengan jerawat
sebagai pertanda, inilah aku, mahasiswa baru yang datang seadanya dan pasrah
apapun dikata seniornya. Masih sepolos itu, masih sangat mengIYAkan perintah
dan mendengarkan apa yang harus didengarkan, melakukan apa yang seharusnya
dilakukan.
Duduk
berbaris, makan berbaris, berdiri pun dengan barisan. “Aahh kak, rasanya kakiku
mulai keram karena terlalu lama berdiri, atau karena malah terlalu lama duduk
berdiam diri. Aahh kak, aku sangat sangat mengantuk, bisakah bapak yang
berbicara di depan itu segera mempercepat pidatonya. Aaahh kak, kenapa terlalu
banyak tugas dan kegiatan yang harus kami kerjakan..Aaahh kak.....”
Demikian
terus hingga lelah pun dilupakan dengan senyumanmu, candamu serta bahagiamu
saat saling menjabatkan kedua tangan dengan menjanjikan bahwa “Aku sekarang menjadi temanmu.. entah nanti
jadi seperti apapun aku..kita mulai disini dengan mengenalkan namaku dan
namamu.. entah nanti kita seAkrab itu, entah nanti kita bertengkar sehebat itu,
entah nanti kita akan sangat membutuhkan sebutuh itu...Aku akan tetap jadi
temanmu..Jadi keluargamu di Kampus ini..Percaya itu, hingga kelak mungkin
kampus ini hanya akan menjadi kenanganmu dan kenanganku, Ingat saja..kita buka
dengan hari ini..”
Seperti
itu..
Kemudian
janji itu dimulai semenjak jemarimu menjabat jemariku. Tanpa Kata. Semenjak itu
kamu berjanji seperti itu terhadapku. Jadi aku pegang janjimu. Seperti itu...
***
Part
II

Sempat
beberapa saat aku ingin mengadu, ingin menangis, ingin meneriakkan betapa
tersiksanya menyelesaikan ribuan kata dengan jemariku. Kemudian lagi Tuhan
mengajariku bagaimana caranya menjadi lebih kuat lagi dan lagi. Menjadi semakin
tegar lagi dan lagi. Menjadi lebih dewasa kian hari per hari. Hingga nanti aku
dibiarkan untuk mampu hidup dengan mandiri. Aku dibiarkan sulit dan sesulit ini
dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya jemariku tak mengenal rasa ngilu, sampai
akhirnya mataku tak mengenal rasa kantuk yang menggebu-gebu, sampai akhirnya
pena biru menjadi sahabat paling mengerti bagi jemariku. Sampai akhirnya lelah
itu sendiri lelah mengikutiku.. Aku masih bisa berdiri tegar seperti ini..Masih
bisa tersenyum seindah ini,, ini juga berkat ada kamu..yang menepuk pundakku
ketika aku lelap karena tertidur pulas, yang selalu menemaniku ketika aku
merasa sangat sendirian, yang menguatkan hatiku ketika aku mulai menguraikan
air mata, yang mau dengan ikhlasnya berbagi suka dan duka. Iya, seperti itulah mengapa
aku masih saja selalu suka bersamamu.
***
Part III
Langkahku tidak berhenti
hanya berada di dalam ruangan berbangku, dengan layarnya berupa papan tulis
putih yang mulai kusam karena selalu beradu dengan spidol hitam. Tidak juga
hanya mendengarkan materi yang dosen berikan lalu terkantuk-kantuk sambil
bergaya seolah jemari menuliskan catatan-catatan penting. Padahal sedari awal
hanya ada peta garis bergaris tak karuan karena pulas mencatat cerita dalam buaian
kantuk...Aaaahh tidak, bagaimana aku bisa belajar jika catatanku kosong...
***
Beberapa
langkah yang tak jauh dari tempat itu. Banyak sekali tambak yang menampakkan
pesona akan ikan atau udang, atau juga rumput laut yang asik bertengger ria
didalamnya. Tempat dimana aku pernah bersusah kaki harus melewati lumpur yang
dalamnya setinggi pinggangku, hanya untuk sampai ke bagian seberangnya. Tempat
dimana wajahku semakin tak rupawan dengan masker lumpur alami dari dasar
tambak. Tempat dimana aku masih se’semangat itu melangkah dari satu tempat ke
tempat lainnya. Masih sebahagia itu melihat tawa dan tangismu secara bersamaan.
Masih seindah itu, saat itu.....
***
End Part
Tapi
tempat ini sekarang tiba-tiba asing. Bangku yang dulunya penuh mulai satu per
satu tak ditempati lagi oleh penghuninya. Tempat ini lama-lama menjadi tidak
sama lagi. Menjadi tak seramai itu lagi.
Aku
masih mengingat beberapa saat lalu kamu mencubit lenganku karena tertidur pulas
di kelas, aku masih mengingat beberapa jam yang lalu kamu masih memanggilku
untuk berlari lekas-lekas karena kuliah akan segera dimulai. Aku masih mengingat
kemarin kamu masih tersenyum bahagia berjalan bersama-sama denganku. Sepertinya
baru saja tadi aku bersamamu... Tapi... Bangku yang kau duduki hari ini kosong.
Kamu tidak sedang bersamaku lagi, begitu juga beberapa bangku lainnya
disekitarku..
Diamku
menyengajakan fikiranku mengingat semua tentang kamu. Membiarkan otakku
dipenuhi semua angan tentang kamu. Beberapa
saat sebelum kamu pergi.. Kelas ini masih sangat ramai..
Tapi
kini aku mengerti.......
Kelas
ini sudah diciptakan untukmu dan untukku seindah itu. Dengan datang bersama,
kemudian berjalan bersama, dan susah sedih bersama.. Aku tau.. pada akhirnya
aku dan kamu harus berjuang sendiri untuk menciptakan kehidupannya sendiri...
Kali ini aku tidak bisa terus menerus menggandeng jemarimu setiap waktu, karena
mimpi kita tidak sama. Jalan kita tidak sama... Kita punya jalan yang
semestinya kita miliki dengan perjuangannya sendiri-sendiri.. Aku tau.... sekarang
bukan seperti saat kita masih dibangku sekolah..Datang bersama kemudian pergi
bersama... Kali ini kita pergi dengan perjuangan kita sendiri-sendiri..dengan
cara kita sendiri, dan dengan waktu kita sendirii.... Kali ini begitu.. Aku
harap kamu mengerti... Aku tidak bisa lagi memaksamu untuk tetap berlama-lama
disini..
Tapi
bagaimana jika aku rindu?? Bahkan baru saja satu detik kamu tidak disini aku
sudah merindu sehebat ini... Kita datang dari tempat yang berbeda, dari jarak
yang berupa-rupa..dari tempat yang tak mampu aku jangkau dengan jarak pandang
mata.. Entah itu kapan aku mampu menggandeng jemarimu lagi dan menyambung
senyuman bersamamu lagi.. Entah kapan... Rasanya masih ingin berbagi tawa
denganmu setiap hari ........................................ masih ingin.
Aku
tidak tau...
Tapi
aku masih ingat, dengan janji yang kau sampaikan saat jemarimu dan jemariku
saling berjabat tangan mengenalkan nama masing-masing. Aku masih ingat..
seperti ini...
“Aku sekarang menjadi temanmu..entah nanti jadi seperti apapun
aku..kita mulai disini dengan mengenalkan namaku dan namamu..entah nanti kita seAkrab
itu, entah nanti kita bertengkar sehebat itu, entah nanti kita akan sangat
membutuhkan sebutuh itu...Aku akan tetap jadi temanmu..Jadi keluargamu di
Kampus ini..Percaya itu, hingga kelak mungkin kampus ini hanya akan menjadi
kenanganmu dan kenanganku, Ingat saja..kita buka dengan hari ini..”
Dan janji itu masih sama... “Entah nanti kamu berada jauh dariku, entah nanti tempatku dekat denganmu, entah nanti mungkin aku tak bisa bertemu lagi denganmu, entah nanti aku bisa bertemu denganmu setiap waktu... Ingat saja..Aku tetap temanmu.. Tidak akan ada yang mampu menciptakan JEDA pertemanan selain Tuhan. Sampai kelakTuhan benar-benar memisahkan Aku dan kamu.....bukan soal jarak..bukan soal waktu..dimanapun tempatnya..Ingat saja..Aku tetap temanmu..”
Jadi
tetaplah seperti ini...kamulah temanku... sahabatku... keluargaku....
bahagialah mengejar impian kita... entah itu ada sembilan puluhan lebih mimpi
dari keseluruhan jumlah kita.. sebanyak itu dan lebih lagi dari itu aku
mengingat kamu.. seramai itu kamu menciptakan bahagia dikelasku... sampai suatu saat nanti.. kelas ini hanya akan jadi “Bukti Kenangan” tanpa kata yang berbahagia
melihat alumni penghuninya mengukir sukses-sukses hidupnya di luar sana.....
Jadi
tetaplah seperti ini.........
Kamulah
sahabatku.. temanku .. J
Beberapa saat
sebelum kamu pergi..Kelas ini masih sangat ramai .. :’)
Special Dedicated for All of My Best Friend at THP
(Teknologi Hasil Perikanan) 2009 FPIK UNDIP.
Bahkan satu hari
bersama kalian bisa menjadi satu buku untuk dituliskan...Apalagi empat tahun...
:’)
Mungkin tulisan
ini tidak bisa selengkap itu..
Tulisan ini hanya bisa sebatas itu..sebatas membantu
mengenang sekecil itu...
Selebihnya kenangan itu lebih banyak bahagia
tersimpan di hati & fikiran kita masing-masing.....
Terima Kasih..
Selalu bahagia dipertemukan oleh kalian semua....
VirQi
Semarang, 13-14
September 2013
( Mohon maaf apabila ada pihak yang dirugikan dari penulisan ini dan apabila ada foto yang kurang sesuai.. foto diambil secara acak dari album yang saya miliki ) ...
( Mohon maaf apabila ada pihak yang dirugikan dari penulisan ini dan apabila ada foto yang kurang sesuai.. foto diambil secara acak dari album yang saya miliki ) ...